Saturday, May 3, 2014

Zero

I thought i could be your hero,
turned out I was your zero.

I thought i could have your love,
turned out you were not a white dove.

I thought i could hold you close,
turned out you were a thorned rose.

I thought i could make you mine,
turned out i crossed the line.

I thought i could be your hero,
turned out i was your zero.

Tuesday, February 4, 2014

Di Satu Kenyataan Lain

4 Februari 2014.

Di Satu Kenyataan Lain.


Di satu kenyataan lain,
dunia ini tidak mengenal perang.

Cerita - cerita sejarah mengenai tumpahnya darah manusia untuk segenggam emas,
hanyalah dongeng.


Di satu kenyataan lain,
dunia ini tidak mengenal penyakit.

Jiwa - jiwa yang tersiksa virus mematikan yang sebenarnya bisa disembuhkan itu,
hanyalah mitos.


Di satu kenyataan lain,
dunia ini tidak mengenal perbedaan.

Perpecahan yang timbul karena perselisihan akibat kesalahpahaman,
hanyalah angan.


Di satu kenyataan lain,
dunia ini indah.

Perpisahan kau dan aku karena dia,
hanyalah mimpi.

Friday, January 17, 2014

Sekali Lagi

17 Januari 2014.

Sekali Lagi.


Sekali lagi,
aku melihat ke belakang.

Memandang jauh pada kenangan akan kita.
Saat kita masih tertawa bersama.
Saat kita masih jalan berdua.
Saat 'kita' masih ada.


Sekali lagi,
aku melihat ke belakang.

Melirik malu pada kesalahan yang terindah.
Dia yang selalu melemparkan senyum ramah.
Dia yang selalu membuat hariku mudah.
Dia yang bisa membuatku jadi gundah.


Sekali lagi,
aku melihat ke belakang.

Menatap kagum pada satu sosok sempurna.
Kepada dia yang memberi wajah ini rona.
Kepada dia yang mengenalkan cinta.
Kepada rasa yang akhirnya sirna.


Sekali lagi,
aku melihat ke belakang.

Kali ini,
untuk yang terakhir.

Thursday, January 9, 2014

One Step At A Time

9 Januari 2014.

Hurry up and wait
So close, but so far away
Everything that you've always dreamed of
Close enough for you to taste
But you just can't touch

You wanna show the world, but no one knows your name yet
Wonder when and where and how you're gonna make it
You know you can if you get the chance
In your face as the door keeps slamming
Now you're feeling more and more frustrated
And you're getting all kind of impatient waiting

We live and we learn to take
One step at a time
There's no need to rush
It's like learning to fly
Or falling in love


It's gonna happen when it's supposed to happen
And we'll find the reasons why

One step at a time

One Step At A Time - Jordin Sparks


Hello, readers.

Udah hampir 10 hari di thaun 2014 dan udah ada beberapa hal yang jadi momen membanggakan buat gue. Gue pikir taun ini bakalan jadi taun yang penuh dengan banyak senyum. Udah cape kan sepanjang tahun 2013 kayanya sedih terus.

Galau is so 2013.

Bulan Januari ini, gue sedang menghadapi final test dari kampus tercinta. Kerjaan gue di Electric Ave juga gak bisa dibilang santai. Belum ditambah lagi gue harus kerjain tugas dan mentoring session sebagai XL Future Leaders. Ibaratnya, gue harus tempel post-it biar gue inget buat ambil napas.

Kalau dipikir - pikir, gue kadang heran gimana caranya gue bisa ngejalanin banyak kegiatan yang seabrek ini. Kalau temen - temen gue tanya apa kegiatan gue dan gue jawab secara jujur, mereka akan ngeliat gue dengan tatapan, "What are you, a superhuman?" karena menurut mereka apa yang gue jalanin itu sangat melelahkan.

Ayo coba kalian lihat apa yang sehari - hari gue lakukan.

Kerjaan gue di Electric Ave itu setiap hari Senin sampai Jumat jam 9 sampai jam 5 sore.
Gue ngampus setiap Senin sampai Kamis jam 5.30 sampai jam 9 malem.
DATE gue setiap hari Jumat jam 7 sampai 10an biasanya, kadang sampe tengah malem.

Nah, sampai sini, secara tertulis aja Senin sampai Jumat gue udah full jadwalnya dari jam 9 pagi sampe jam 9 malem.
Tapi ini belom beres.

Hari Sabtu gue balik Bogor dan jaga toko seharian.
Hari Minggu, gue balik ke Jakarta dan gereja jam 10 sampai jam 12 buat pelayanan as Youth Mentor. Baru abis itu biasanya ibadah jam 5.30 sampe jam 7 malem.

Ini berarti hari Sabtu dan Minggu juga booked ya.
Tapi ini juga belom beres.

Karena sebagai mahasiswa bakalan dapet tugas, gue terkadang kerjain tugas di kampus on weekdays sampe jam 10an.
Di DATE pun gue jadi Core Team which means gue akan ada meeting sekali sebulan.
Pelayanan sebagai Youth Mentor mengharuskan gue ikutan Team Night sekali sebulan dan akan ada Training Night juga mulai tahun ini.
Sebagai XL Future Leaders, gue wajib ikut session face to face setiap dua bulan sekali selama Sabtu dan Minggu, full dua harian.
Ditambah juga ada modul online kalau gak ketemu face to face yang harus gue kerjakan.

Sampai sini aja baru kegiatan yang wajib gue lakukan.
Jadi belom beres.

Gue sangat suka baca jadi setiap minggu gue bisa baca 2 buku baru atau ngulang buku lama.
Gue juga suka nulis jadi gue sempetin nulis minimal seminggu sekali.
Gue juga lagi dalam tahap merencanakan sesuatu untuk direalisasikan tahun ini jadi gue sisihkan 2 jam per minggu untuk project ini.

Nah kira - kira itu rangkuman keseharian gue.

Gue ceritain ini ke kalian bukan untuk nyombong atau terlihat keren. Gue mau bantu kalian untuk sadar untuk bisa take one step at a time seperti gue.

Ya, bagaimana cara gue menjalani hidup ya itu intinya: jalanin aja satu satu.

Kalau diliat secara list tadi, kan keliatannya ribet banget kan hidup gue. Tapi, gimana gue bisa tahan yah gue fokus sama hal - hal kecil yang bisa gue kerjain baru gue lirik hal yang lain.

Kalau gue banyak kerjaan dan ada tugas kuliah dan tugas XL yang harus dikerjain, gue akan pecah jadi potongan kecil semuanya terus gue kerjain satu, kerjain lagi satu, sampai semuanya abis.

Sama kaya makan pizza lah. Lu gak mungkin ambil satu loyang terus langsung kunyah kan. Lu ambil satu slice, lu gigit sedikit, dikunyah sepotong sepotong, baru telen. Dan gak lama pizzanya abis dan perut lu membuncit..

Anyway, you get what i mean, kan?

Satu lagi prinsip gue, do it as if it for God, not for men because actually you are doing it for the glory of God. Kalau kita bisa excellent dalam kerjaan kita, dalam kampus kita, dalam pertemanan kita, orang - orang akan setuju sama apa yang kita omongin tentang iman kita.

Bayangin aja kalo kita ngomong orang yang kenal Yesus itu adalah orang yang punya kasih, murah hati, pemaaf, dan sebagainya tapi idup kita sendiri aja masih urakan. Ibaratnya orang jualan obat flu tapi dia sendiri sakit flu. Gak ada yang percaya lah sama obatnya.

Jadi, kali ini, gue mau kalian diam sejenak dan tenang. Jangan ngeluh kalau idup gue sibuk ini, sibuk itu. Tugas kampus susah, kerjaan gue numpuk, gue ga sempet seneng seneng. Inget, banyak orang yang rela mati buat jadi sesibuk kalian. Liat di lampu merah terdekat.

Sit back.
Relax.
Then just take one step at a time.

Thursday, January 2, 2014

An Obligatory Post For New Year

2 Januari 2014.

Hello, readers.

Udah lama gak nulis di blog ini. Bukannya gak mau tapi gue emang gak ada waktu dan tenaga yang tersisa akhir - akhir ini. Dan gue akan jelasin kenapa sekalian gue mau recap 2013 kemarin.

Okay. Here we go.

Buat kalian yang mengikuti blog gue selama taun 2013 kemaren, kalian mungkin sadar kalau gue nulis blog itu dengan urutan 12 chapter dan 365 halaman. Ya, emang cheesy abis, gue dapet idenya dari kalender. Tapi terlepas dari bentuk penulisannya, isi penulisannya mungkin bikin kalian bertanya - tanya, ada apa dengan pria muda berusia 21 taun ini, kok hidupnya galau terus.

Sekedar meluruskan, yang gue tulis di blog ini bukanlah cerita tentang gue. :)

Ya, betul, sayang sekali menghancurkan impian kalian tentang cowo kiyut romantis yang menanti sang pujaan hati dengan galaunya. Hahahaha. Yang gue tulis di blog ini fiksi belaka. Memang terinspirasi dari hubungan gue dengan seseorang tapi kenangan gue sama dia enggak seburuk/semanis itu sih..

Jadi, sebenernya post gue yang kemarin itu ada jalan ceritanya gitu sih sebenernya tapi entah kenapa gue malah keasyikan ngimpi tentang gue, si J, dan si Baju Biru jadinya malah agak - agak keluar dari plot yang direncanakan. Hahaha.

Kalau kalian sadar juga, kalian gak ngeliat adanya Chapter 12 di post gue. Itu emang tujuannya. Gue mau berbagi cerita dengan kalian yang ujungnya boleh kalian tentuin sendiri. Bukan gue, selaku si penulis, yang tentuin ujungnya. Jadi, silakan kalian terka dan reka sendiri ujungnya ya.. :)

Kalau menurut versi gue, ujungnya si tokoh Aku sakit ataksia gitu terus si tokoh J akhirnya suka sama dia.. *wait, ini kayanya familiar ya sama sinetron apa..*

Itu tentang post gue selama taun 2013. Semoga kalian dapet kesan yang mendalam yah setelah baca post gue yang sedihnya bikin ngiris nadi. Tapi sayangnya mungkin 2014 gak akan sesering itu ya.. :)

Updates about myself:
I'm currently working 9-to-5 as a copywriter di Eave! Yeah!! Salah satu cita - cita gue udah tercapai!
Gue juga masih kuliah di London School batch 15, berarti udah mau masuk semester 6. Mulai semester 5 kemarin, gue ambil kelas malam.
Gimana rasanya?
CAPEK.
Gue gak ngeluh sih karena kerjaannya juga gue suka banget. Tapi kadang - kadang gue kangen ke mall siang - siang terus ngeliatin orang pacaran sambil iseng ngedubbing obrolan mereka..

Yah itu sekedar post taun baru dari gue!

Happy New Year, readers!
Enjoy a prosperous and fruitful year ahead!

Friday, November 22, 2013

On Trust Issue

Chapter Eleven.

Page 326 of 365.

On Trust Issue.


Segampang apa kalian percaya sama keluarga kalian?
Segampang apa kalian percaya sama temen - temen kalian?
Segampang apa kalian percaya sama orang lain?

Segampang apa kalian percaya sama diri kalian sendiri?

Buat gue, jawabannya adalah susah.
Ya, susah untuk percaya sama diri sendiri, apalagi orang lain.

Mungkin ini emang sifat bawaan gue dari lahir.
Mungkin juga ini hasil dari akumulasi pengalaman gue dikecewakan oleh orang lain.
Yang bikin keselnya adalah gue orang yang seringkali butuh pendapat orang lain saat mempertimbangkan sesuatu.

But i'm not really sure whether they are telling the truth or just their opinion.
But i keep on insisting to hear it.
Though i know that it's not always necessary.

Masalahnya ada di diri gue sendiri.
Ketidakpercayaan gue sama diri gue sendiri membuat gue hampir selalu meragukan setiap keputusan yang udah gue buat.
Hal ini membuat gue butuh pendapat orang lain.
Tapi gue juga hampir selalu gak percaya pendapat orang lain.
Terutama yang pendapatnya gak sesuai sama pemikiran gue.
Yang membuat gue berpikir sendiri tapi gue juga gak terlalu percaya sama pendapat gue sendiri.

Dan siklus ini berlanjut terus bak lingkaran setan.
(Gue gak tau siapa penemu frase lingkaran setan. Gue cuma mikir aja kenapa harus ngambil lingkarannya si setan bukan lingkarannya Budi.)

Untuk hal - hal tertentu sebenernya gampang.
Kalau pendapat gue dan opini orang lain sama, biasanya gue akan langsung setuju aja.
Yang rada ribet kalau beda nih.

Bukan tentang benar atau salah.
Cuma tentang suka atau enggak.

Gue suka satu aktivitas tertentu yang gak melanggar Perintah Tuhan ataupun Undang - Undang Dasar ataupun merugikan harkat hidup orang banyak.
Tapi hampir semua orang yang gue hormati gak memberikan opini positif ketika gue tanya.
Mereka gak kasih opini negatif juga sih.
Mereka cuma jawab, "Oke."

Padahal kalian berharap mereka akan jawab sesuatu yang lebih panjang dan bermakna jelas selain sebuah oke.
Rasanya pengen kasih mereka bunga.
Bunganya dilempar.
Sama potnya juga.
Dari lantai 15.
Sama Ade Rai.

Sesuatu yang gue anggap penting ternyata gak begitu penting buat mereka.

Gue:
Gue mau jadi penyanyi dangdut ah.

Orang lain (yang mereka omongin):
Oke.

Orang lain (yang gue tangkep dan gue hampir yakin 100% ini sebenernya maksud mereka):
Oke, lu fix udah gila. Jangankan nyanyi, napas aja sumbang. Jangankan suruh joged, lu bedain kiri kanan aja gak bisa. Sana kembali nulis puisi - puisi galau aja.


Oke, ini ilustrasi aja. Gue gak berencana mengubah karir keartisan gue jadi penyanyi dangdut tapi kalau ada agensi yang berminat, bisa hubungin gue di email gue..

Anyway.

Yah gitu deh maksud gue.

Kadang apa yang lu yakinin gak sesuai sama pendapat orang. Karena yang penting bukan pendapat orang. Bukan juga pendapat lu sendiri.

Yang penting adalah apa pendapat Tuhan tentang elu karena Dia tau kalian luar dalem dan masih terima kalian apa adanya.

Siapa yang berani kaya begitu?

Gue rasa orang tua gue juga gak segitunya. Kalau gue ada salah, mereka pasti kecewa tapi mereka terima gue apa adanya.

Tapi Tuhan enggak. Kalau gue ada salah, Dia terima gue apa adanya karena identitas gue bukan ditentukan sama apa yang gue perbuat. Identitas gue ditentukan sama apa kata Dia tentang gue. Dan yang gue tau, Dia bilang gue adalah anak kesayangannya.

So i choose to trust Him.

Kalau di waktu lain kalian ragu - ragu, kalian takut, kalian bingung harus percaya sama siapa, gue sih saranin percaya sama Tuhan aja. Jangan sama diri sendiri, jangan sama orang lain, itu namanya musyrik.

Semoga tulisan ini jadi berkat buat kalian.

Tuesday, November 19, 2013

Fiction

Chapter Eleven.

Page 323 of 365.

Fiction.


You are here,
sitting next to me.
Doubts disappear,
my heart's full of glee.

You are mine,
for longer than forever.
I don't need any sign,
it's almost happily ever after.

You love me,
just like the way it should be.
I'm so happy,
as happy as i can be.

This is perfect.
This is what we always hope for.
This is too good to be true.
This is not going to happen in this lifetime.

So i wake up and mourning over my lost.

Friday, November 15, 2013

On Love 2.0

Chapter Eleven.
Page 319 of 365.
On Love 2.0

Kapan terakhir kali kalian jatuh cinta?

Kapan terakhir kali kalian cuma mikirin satu orang itu terus sampai lupa sama yang lain?
Kapan terakhir kali kalian gak bisa tidur karena udah gak sabar buat ketemu orang itu besok paginya?
Kapan terakhir kali kalian gugup setengah mati karena mau ketemu dia tapi di saat yang bersamaan, kalian seneng setengah mati?

Kapan terakhir kali kalian bener - bener jatuh cinta?

Apa kalian pernah tanpa sadar ngedengerin lagu - lagu yang gak pernah kalian denger karena kalian tau kalau si dia suka sama lagu itu?
Apa kalian pernah nonton film yang gak kalian suka hanya karena si dia bilang film itu bagus?
Apa kalian pernah tiba - tiba ngelakuin hal - hal yang gak kalian suka cuma karena si dia bilang hal itu keren?

Ya, kalian pasti pernah jatuh cinta.

Gak ada yang pernah salah dengan jatuh cinta.
Satu - satunya yang salah adalah ketika kita salah pilih objek untuk jadi pelabuhan cinta kita.

Kita sering menyalahartikan perasaan lain dengan cinta.
Bisa aja sebenernya kita cuma kagum.
Atau malah terharu ngeliat kelakuan dia.
Atau cuma sekedar suka penampilannya.

Kecuali kalau lu suka sama penampilan SNSD.
Enggak, itu beneran namanya cinta.

Kesalahan yang terakhir adalah kesalahan umum yang sering dilakukan anak muda.
Karena mereka terpatok dengan konsep dari mata turun ke hati.
Apa yang enak dilihat, pasti juga enak untuk dijadiin pacar.

Beberapa waktu yang lalu, gue liat salah satu temen gue posting  foto di Path yang kurang lebih intinya begini:
Kalau penampilan fisik yang membuatmu jatuh cinta, bagaimana kamu mencintai Tuhan yang tidak berwujud?

Tiba - tiba gue kepikiran aja.
Bener juga ya.

Kita gak bisa lihat Tuhan tapi kita cinta Tuhan.
Seenggaknya, gue sih cinta Tuhan gue.
Gak tau kalian gimana.

Ada satu kutipan dari salah satu film cinta - cintaan favorit gue yang judulnya cin(T)a:

"Pacar saya harus lebih cinta sama Tuhannya dibanding sama saya. Kalau dia bisa gak setia sama Tuhannya, gimana dia bisa setia sama saya?"
(Kurang lebih sih ingetan gue begini ye, maaf kalo terjadi kesalahan pengutipan.)

Apakah kita udah pernah menjadikan standar keimanan sebagai patokan kita cari pacar?
Kalau pertanyaan ini gue lemparkan ke temen - temen gue, kayanya semua bakal jawab iya.
Tapi kenyataan yang gue dapet enggak begitu sih.

Dan sejujurnya, iya emang rada susah sih.
Coba bayangin, kalian pilih mana:

Emma Stone tapi gak taat beragama

atau

(Isi bagian ini dengan orang yang berwajah biasa aja) tapi taat beragama?

Semua pria berpikiran lurus dan bermata jernih pasti pilih Emma Stone. Gue juga sih.
Itulah susahnya hidup dengan indera penglihatan yang menjadi patokan utama kita.

Jadi, apa intinya tulisan kali ini?

Gue cuma mau ngajak mikir aja.
Apakah kita udah belajar mencintai Tuhan yang tak berwujud secara serius?
Karena kalau jawabannya adalah iya, kalian gak akan melihat orang lain dari tampak luarnya aja.
Kalian gak akan gak setia sama pacar kalian.
Kalian gak akan gak hormat sama orang tua kalian.
Kalian gak akan gak mengasihi orang lain.

Kenapa?

Karena jatuh cinta sama Tuhan adalah jatuh cinta dengan kasih yang paling sempurna.
Yang gak egois.
Yang gak licik.
Yang gak mikirin diri sendiri.
Yang gak bersenang - senang di atas penderitaan orang lain.
Yang gak lain di mulut, lain di hati.

Karena ketika kita jatuh cinta, segala sesuatunya berubah.

Apakah kita udah bener - bener jatuh cinta sama Tuhan?
Apakah kita udah bener - bener gak pikirin hal lain selain berusaha menyenangkan hati Tuhan?
Apakah kita udah bener - bener belajar untuk gak ngelakuin apa yang Dia gak suka?

Atau kita cuma sekedar suka sama Tuhan?

Have a great weekend.

Saturday, November 2, 2013

Satu Hari Lagi

Chapter Eleven.
Page 306 of 365.
Satu Hari Lagi.

Satu hari lewat lagi.
Satu hari yang dihiasi senyummu.
Satu hari yang kamu isi dengan kebahagiaan.
Satu hari yang aku habiskan dengan mengagumimu.

Kadang aku berpikir,
apa yang membuatmu berbeda dari yang lain.

Parasmu yang menarik?
Masih banyak yang lebih menarik dibanding kamu.

Wajahmu yang rupawan?
Ada berjuta - juta orang yang lebih rupawan di luar sana.

Senyummu yang tulus?
Bukan sesuatu yang spesial dibanding orang lain.

Tapi ada sesuatu yang terus menerus menarikku untuk selalu memikirkanmu di setiap napasku.
Dan hari ini aku tau apa itu.

Kamu,
akan selalu berada di luar jangkauanku.

Kamu,
akan selalu hanya menjadi khayalan di siang bolong.

Kamu,
akan selalu menjadi mimpi indah yang tak mungkin menjadi nyata.

Dan hari ini adalah waktunya aku terbangun dari mimpi indah itu.

Namun,
kali ini aku memohon kepadamu
sebuah permintaan sederhana.

Aku meminta satu hari lagi.

Satu hari lagi yang dihiasi senyummu.
Satu hari lagi yang kamu isi dengan kebahagiaan.
Satu hari lagi yang aku habiskan dengan mengagumimu.
Satu hari lagi,
denganmu di sisiku.

Thursday, October 17, 2013

On Leaving

Chapter Ten.

Page 290 of 365.

On Leaving.


I'm 21 and never had a chance to move somewhere faraway.
I never had a chance of saying goodbye.
I never had a chance of leaving something behind.
So it's kinda hard for me to move on.

But now,
i have to.

And it's the hardest thing to do.
Almost impossible.
Because i always thought moving on means you forgot everything.

How can you forget someone who gives you so much to remember?

I'm trying.
And take that baby steps.

The first day i decided to leave everything behind was disastrous.
Everything, every small little thing reminds me of J.
And i felt stupid.

How can you miss something you never had?

My friend tell me to stop entertaining the memories.
I'm not.
It just happens.

Today is the second day.
I come to a realization that it's what best for us.

I have to learn to let go of everything in order to gain something better.

Was it easy?
Nope.
But i know this is what i have to do.
This is the consequence i have to bear.

I found a picture of J just now.
And when i look at it, i just thought:
There you go, J. 

No hurt feeling,
No longing feeling.
Just a used-to feeling.

I was scared that someday i'm going to forget about J.
I was scared that someday someone's going to be as valuable as J to me.
Now, i'm not so sure.
I feel like i can wait to find that somebody.

Well, i guess this is my first lesson about leaving.

You have to move somewhere in order to leave something behind.

Wednesday, October 16, 2013

Another Thought About Secret

Chapter Ten.

Page 289 of 365.

Another Thought About Secret.


What is your secret?


Everytime i go somewhere, whenever i meet people, i think of something: what is your secret?

Because i know the answer will always be a slight nod.
We all have secrets.
We all have something that we keep for ourselves, hoping that no one will find out about it.

Yet we sometimes give our friends clues about our secrets.
We sometimes share a piece of our secrets but never the complete story.
We are scared yet we want to be understood.

Sometimes i hate how i love writing.
Because i can not lie when i write.
I always be honest in my writing and it makes me share my deepest, darkest secret.
Bit by bit.

I told some of my friends a big chunk of my secrets.
I can't tell them the whole story.
It was hurting me to confess that secret.
And i knew that they would never understand but i'm still telling them the half story.

I always try to find someone who understand.
But it's not that easy.
People who have been through my secret tend to isolate themselves, just like me.
Well, some of my friends might tell me that they know me well.
But, actually, no one knows me that well.
Except, you have been through what i'm dealing with.

Sometimes, i found a person or two whom i thought will understand me completely.
But it's not that easy to share something with a total stranger.

Hey, i thought it actually is a good idea.
I prefer to share my secret with a total stranger so that i can feel relieved and don't have to bear the guilt of being judged.

You see, whenever i talk about it, i'm nervous.
I'm not being a good narrator, i skip moments because i have to censor some.

What i'm trying to tell you here is, we all have secrets.
Even when you think your BFF has shared all of his/her secrets with you, he/she still hides something.
It's not because they don't trust you.
Sometimes, it hurts so much for confessing the secret.

Don't push people to share their secrets with you.
Trust is earned, not demanded.
If people want to share their secrets, they will.

And the thing about secret is, it will surprise you.
Well, some facts might not surprise you. Maybe you always thought: yeah, he looks like it..
But really, the story is more complicated than that.

When people share their secrets, just listen for them.
Most people do it for the sake of themselves.
Not to show that they trust you.
They do it just because they will go crazy if they don't.

Yes, it's an honor to be shared a secret but you don't have to solve the problems unless they ask for it.
Be a good secret-keeper.
Don't secretly joke about it in front of your friends.
Really, please don't.
It makes the secret-owner nervous.

Don't we want to just scream and tell our secrets to the world?

I have a better idea.
Why don't i move somewhere faraway where no one knows me and start over new?
It's tempting and i am not over it.

Having a secret is not a choice.
A secret might come as a gift, wrapped in your favorite blue ribbon.
Just like the box of Pandora.
You just can do nothing with it yet it's seducing you to do something.

Having a secret is suck.

I don't think i can hold it any longer.

On Surviving Your 20s

Chapter Ten.

Page 289 of 365.

On Surviving Your 20s.


When you are a kid, life is about fun, laugh, cookie, and more fun.
When you are in junior high, life is about experimenting and experiencing new things.
When you are in your teenage years, life is about love, heartbreak, friendship, parent issues, and more heartbreaks.

But as soon as you realize you're not a teen-ager anymore (and yes, 20 is not a teenager, d'oh), you are stumbling your way on finding out about life itself.

When you are in 20-something, life is about finding the reason why you exist.

I'm not an expert yet, but i think i can share some tips on surviving your 20s. (I'm 21, duh, it's like i'm experiencing 2 years of my 20s. I'm a soon-to-be expert, at least.)


1. Realize that time is ticking faster than you think

When you're in your 20, whether you're in college or in marketplace, life doesn't count as days, but as moments. Use your ultimate resources wisely. No, your ultimate resources is not money, it's time. You can lost your money and you can get it back. It doesn't apply for your time.

Stop procrastinating. Stop thinking you have unlimited resources of time. Truth: you might be young, but never be too young to die.

And stop lying that you do any good for yourself by taking a rest. Well, taking a rest is good for your body but watching 8 hours straight Korean variety show is not. Go and make your momma proud.


2. It's time to answer the questions about life

As i mentioned earlier, 20-something is about answering the ultimate question: what are you going to do with your life?

Many people are having hard times answering it. They think that finding out your purpose means there is a sound from heaven telling you to do a great thing to change the world. While i believe there is some people who heard that sound from above, most of us can't wait for the God's whisper.

Deep down inside, you know what you have to do with your life. You're just scared to state it out loud. You're scared that you might not enjoy it. Well, guess what? You can always change your life's direction.

Find out what you love to do and start from there. And please, use your brain. No matter how happy you are when you are shopping around the malls, you can not have swiping the visa card as your calling.


3. Eliminate

Now you know that time is ticking away and you have a calling for your life but now you wonder: how on earth i could possibly do all this stuff and maintaining my relationship with friends, family, and myself?

Simple: eliminate.

Just because you are doing it for years, doesn't mean you have to continually do it. If it doesn't make you happy, why bother? Your family dinner every Friday and meeting some relatives that just talking sh- about your life? Skip it. A bunch of friends who talk about others behind their back? Dump them. Your so-called me time that includes surfing on the internet all day long? Cancel it and go to bookstore instead.

You are responsible for your mental health. When you have a solid reason of not doing something, then don't do it. The only person you have to make him happy is yourself.


4. Be grateful

You live in the most-sophisticated era of human history. We have 4G internet, laptop, smartphone, airplane, and Girls' Generation. That should be enough.

Even so, you are doing better than half of the world population now. You are not in a war, you're alive, you can read, you have internet access to this awesome blog, you have friends and family eventhough some of them are annoying, and you have a shelter and food to eat. Now tell me how a heartbreak could ruin your life...


5. Enjoy life

Being in you 20s is being in your best years. I always thought that teenage year is your best time but it's not. You made stupid decisions on your teenage years. 20s are your second season of the teenage years and just like all the TV shows, second season is always the best.


Now, hit the life.

Monday, October 14, 2013

Menghapus Jejakmu

Chapter Ten.

Page 287 of 365.

Menghapus Jejakmu.


Di situ,
ku lihat lagi jejakmu
pada setiap tawa yang aku dengar.

Sebuah kebahagiaan yang terekam jelas di telingaku,
yang selalu aku rasakan saat bersamamu.

Aku mencoba menghapus jejakmu dari pikiranku.
Kali ini, sekuat tenaga.

Namun,
ku lihat lagi jejakmu
di setiap tangan yang bergandengan.

Sebuah rasa sayang yang terpancar kuat di hatiku
yang selalu aku simpan hanya untukmu.

Aku mencoba menghapus jejakmu dari pikiranku.
Kali ini, sepenuh hati.

Sayangnya,
ku lihat lagi jejakmu
pada setiap tetes air mata yang aku lihat.

Sebuah kesedihan mendalam yang terasa menusuk
yang selalu aku bawa karena mengenalmu.

Aku mencoba menghapus jejakmu dari pikiranku.
Kali ini, untuk selamanya.

Sunday, October 13, 2013

Happy Birthday

Chapter Ten.

Page 286 of 365.

Happy Birthday!


"Happy birthday, you!
Enjoy another year of God's favor and goodness.
Jesus loves you."

That was my template for birthday-wishes. Biasanya kalau yang ulang taun itu temen deket, gue akan merelakan sedikit waktu untuk bikin wishes yang specially custom made buat dia. Ucapan ini gue biasa kasih untuk temen yang gak terlalu deket untuk gue kasih ucapan yang personal tapi karena kenal jadinya gak enak kalau gak ngucapin.

If you're my loyal readers, if i have any, mungkin kalian bertanya - tanya kenapa post kali ini bukan puisi sedih yang bikin pengen iris - iris nadi sambil dengerin To Make You Feel My Love versi Ka Sid. Jawabannya adalah karena ini hari spesial untuk beberapa orang di dunia karena hari ini mereka ulang tahun.

Salah satunya adalah J.

Buat yang belum tahu siapa itu J yang sering saya sebut di sini, boleh buka post dulu - dulu. Pokoknya, kalau post itu bikin sedih, inspirasinya adalah si makhluk berinisial J ini.

The story between me and J is kind of funny tapi cerita ini masih jadi rahasia saya dengan Tuhan saja. Even some people yang saya ceritain tentang J, belum saya kasih tau cerita lengkapnya. :)

Yang perlu kalian tahu adalah J sudah jadi semangat saya untuk berbagi berbagai sisi dari sebuah perasaan manis yang mungkin dimiliki antara dua orang anak manusia.
J adalah alasan saya untuk memulai menulis puisi - puisi sedih yang depressing walaupun beberapa orang bilang bagus.
J adalah orang yang berhasil membuat saya merasakan senang, sedih, marah, dan berbagai macam emosi yang bisa dirasakan seorang remaja polos berusia 19 tahun waktu itu.
J adalah pelajaran berharga saya.

Hari ini, 13 Oktober, adalah ulang tahun J.

Saya hampir tidak mungkin mengucapkan pesan ulang tahun buat dia tapi saya masih tetap mau mengucapkan beberapa pesan buat dia.

"Hai, J.
Selamat ulang tahun.
Semoga tahun ini jadi tahun yang baik buat kamu. Buat pekerjaan, buat keluarga, buat kehidupan sosialnya, buat hobi kamu, buat relationship kamu juga. I will always hope better than the best for you.


Terima kasih sudah mengajarkan saya banyak hal. Walaupun tidak mudah buat saya menerimanya, tapi saya bersyukur kalau kamu sudah mau membuat saya membuka mata kepada kenyataan.

Banyak yang mau saya sampaikan tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Kalau tentang kamu, saya tidak pernah bisa berkata - kata dengan baik karena saya belum bisa menjelaskan keindahanmu dengan 26 huruf saja.

Terima kasih, sekali lagi.

Happy birthday, J."

Dengan ucapan ini, saya mau mengabarkan bahwa saya telah memutuskan untuk tidak mengingat J lagi. Kali ini bukan janji. Ini keputusan. Keputusan yang sulit tapi saya akan terus fokus untuk menjalankannya. Jadi, maafkan saya kalau ke depannya mungkin tidak akan ada puisi sedih dengan gejolak hati yang mendalam seperti sebelumnya. Inspirasi utama saya sudah saya pindahkan dari pikiran saya.

Cheers.

Thursday, October 10, 2013

Voluntarily Trapped

Chapter Ten.

Page 283 of 365.

Voluntarily Trapped.


I'm voluntarily trapped in the name of love.
Dancing my way out to go deeper.
Singing my heart out to harm more.

I'm voluntarily trapped in the scent of romance.
Loving the feeling of being sentimental.
Embracing the truth of being deceitful.

I'm voluntarily trapped in the touch of delight.
Enjoy every minute of your lies.
Relish every moment of my sorrow.

I'm voluntarily trapped in the flavor of passion.
Tasting your harshness with a spoonful of sugar.
Sampling the heart-break on a silver platter.

I'm voluntarily trapped by you.
And i'm willing to do it more often.

Tuesday, September 24, 2013

Another Story About The Blue Shirt, Again

Chapter Nine.

Page 267 of 365.

Another Story About The Blue Shirt, Again.


I don't know why i want to write about this person almost everyday.

I'm trying to figure out the answer and find it, finally:

The Blue Shirt makes me happy and i want you to feel this kind of happiness.


Yesterday,

we were sitting close.

We've been sitting next to each other so it's not the closest we've ever been.

But yesterday was different.

It was the best view for me to look at you.

I always feel the funny feeling whenever i look at you.

A feeling of longing, loving, and pure joy.


And then, we started to steal glances last night.

If that was a dream, that was the sweetest dream i ever had.

It's not an ordinary night where i'm hopelessly-staring-at-you.

We finally stole glances.

Happiness.


I always knew that you're funny.

And when you made the whole class laughed yesterday because of your silly joke..

It's cute.

Uber cute.

You just give me another reason to fall for you deeper.


And when i think you couldn't impress me more,

you proved me wrong.

That moment when you didn't laugh at the teacher's inappropriate joke and you frowned because you didn't think it's something to be laughed on..

I'm amazed.

I'm impressed.

I feel like i have the right person to give the privilege for breaking my heart.

"Yes, it would be a privilege to have my heart broken by you."


See you tonight.

Thursday, September 19, 2013

Anomali Baju Biru

Chapter Nine.

Page 262 of 365.

Anomali Baju Biru.


Halo, Baju Biru.

Terima kasih karena sampai hari ini kamu selalu memakai baju biru ke kelas.
Though i believe you always look great with whatever you're wearing, i love you in blue.


Kemarin, saya senang.

Karena untuk pertama kalinya kita duduk bersebelahan, hanya dipisahkan oleh jarak sejauh beberapa puluh sentimeter.


The moment you were walking to the class yesterday, smiling, and chose to sit right next to me is the moment that i knew i have completely fallen for you.


Rasanya senang karena saya bisa lebih sering melirik ke arah anda.

Rasanya bahagia karena entah apa alasannya, anda memilih duduk di hampir sebelah saya.

Rasanya sedih juga karena saya tau ini hanya ada di pikiran saya.


Lalu, momen yang menyakitkan itu pun dimulai.

Saat anda membuka dompet anda dan saya melihat foto - foto yang ada di dompet anda.

Ya, rasanya sakit.


Semakin hari, saya terdengar semakin bodoh, ya?

Kenapa anda harus sebegitu berartinya bagi saya?

Kenapa saya harus sakit hati setiap saya menyadari kenyataan?

Kenapa?


Semoga semua pertanyaan saya cepat terjawab.


Terima kasih, sekali lagi, karena membuat saya tersenyum satu malam lagi.


Si Baju Abu Abu.

Monday, September 16, 2013

Kejutan Si Baju Biru

Chapter Nine.

Page 259 of 365.

Kejutan Si Baju Biru.


Halo, Baju Biru.

Hari ini anda berhasil membuat saya sebal dengan anda.

Ini dikarenakan akumulasi dari labil di kudeta hati ini. Biar saya jabarkan lebih lanjut lagi.

Pertama, saya tau ini bukan sepenuhnya salah anda, saya menemukan fakta bahwa anda telah ada yang punya. Dan sayangnya, saya selalu menghormati hubungan orang lain.
Itu yang membuat saya sebal.
Kepada anda.
Kepada orang yang memiliki anda.
Kepada diri saya sendiri.
Kepada waktu yang tidak tepat.

Anda harus tahu bagaimana sakitnya mengetahui fakta ini buat saya. Bayangkan anda ditabrak mobil pemadam kebakaran dan kalikan rasa sakit itu 1000 kali lipat. Itu baru seperseratus rasa sakit yang saya alami. Saya kaget mengapa saya masih bisa hidup.

Kedua, hari ini anda telat datang ke kelas. Anda datang 15 menit sebelum kelas selesai. Sepanjang kelas, saya takut. Saya takut tidak melihat anda hari itu. Saya takut anda mungkin sakit. Saya lebih takut dengan fakta mungkin anda sedang pergi bersama dengan dia.

Lalu, 15 menit sebelum kelas selesai, berdirilah makhluk Tuhan yang hampir sempurna di depan kelas. Dengan napas terputus - putus. Dengan senyummu yang memukau seperti biasa, anda dengan tenangnya menyalahkan macet Jakarta untuk alasan keterlambatan anda.

Ketiga, anda tidak menganggap saya hari ini. Mungkin karena anda masih belum menyadari eksistensi hidup saya di hidup anda. Tapi saya merasa tambah sakit hari ini karena anda menyapa orang di sebelah saya dan bukannya saya.

Kenapa?

Apakah anda tidak tahu ada orang yang peduli dengan anda disini?

Kali ini, anda kelewatan dan saya marah.

Ya, saya marah.

Saya marah karena anda membuat saya khawatir.

Saya marah karena saya memikirkan anda padahal saya bukanlah siapa - siapa.

Saya marah karena anda tidak menganggap saya ada.

Saya marah karena anda tidak mengetahui perasaan saya.

Saya marah karena saya peduli terhadap anda.

Saya marah karena walaupun anda membuat saya kesal hari ini, saya tetap menyukai anda.

Saya marah karena perasaan ini.


Sekian surat dari saya kali ini.

Semoga anda cepat putus lalu menyadari kehadiran saya dan kita bisa hidup bahagia berdua dengan latar belakang matahari tenggelam.


Salam,
Si Baju Abu - Abu.

Friday, September 13, 2013

Temptation From The Blue Shirt

Chapter Nine.

Page 256 of 365.

Temptation From The Blue Shirt


Stop tempting me.

Stop teasing me.

Stop making me fall deeper in love with you.

Stop giving me that smile,
a smile that can light up the rest of my nights,
a smile that gives me thousands reasons to smile back at you.

Stop giving me that gaze,
a gaze that makes my heart beats faster,
a gaze that makes me blush out of nowhere.

Stop giving me that laughter,
a laughter that defines a sincere happiness,
a laughter that tells me that heaven-on-earth is not a myth.

Stop giving me that scent,
a scent of happily ever after,
a scent of the perfect one for me.

Stop giving me that feeling,
a feeling of love,
a feeling of wondering and get lost in your story.

Stop giving me that hope,
a hope that i can get to know you closer,
a hope that you understand what you mean to me.

Stop tempting me.

Stop teasing me.

Stop making me fall deeper in love with you.


...


But, actually..

No, please don't stop.

Wednesday, September 11, 2013

Untuk Si Baju Biru

Chapter Nine.

Page 254 of 365.

Untuk Si Baju Biru.


Kepada Si Baju Biru,

di kelas baru.


Lampiran: kepingan hati, separuh napas, dan segenggam ketulusan.


Kepada Si Baju Biru,


Bersamaan dengan surat ini, saya selaku penghuni kelas baru di kelasmu, menyatakan ketertarikan yang aneh kepada dirimu.

Bukan, bukan perasaan yang diawali dengan huruf C itu. Terlalu dini bagi kita untuk mengucapkan itu. Namun, yang pasti, kamu telah sukses membuat labil hati saya.

Setiap saya masuk ke kelas, mata saya selalu terpaku kepada kamu dan saya akan memilih untuk duduk di tempat yang memungkinkan saya untuk terus memandangimu tanpa takut ketahuan.

Setiap ada tugas berkelompok di kelas, saya selalu mengucap doa dalam hati agar sang takdir mempertemukan kita bersama.

Setiap ada lelucon terucap dalam kelas, saya selalu melirik ke arahmu karena melihatmu tertawa adalah kebahagiaan terbesar saya hari itu.

Setiap kamu datang ke kelas dengan baju berwarna biru, saya selalu khawatir. Khawatir melihatmu begitu mempesona dan membuat penghuni kelas lainnya memperhatikanmu.

Setiap kelas berakhir, saya selalu melihatmu pergi dengan terburu - buru. Sedikit takut bahwa kamu pulang bersama orang yang kau selalu telepon tiap istirahat itu.

Nah, maksud saya menulis surat ini hanyalah mengungkapkan apa yang saya rasakan.

Bukan surat permintaan yang memaksa anda untuk menyukai saya kembali.

Saya hanya ingin anda tahu bahwa anda selalu membuat malam - malam saya lebih berwarna.


Terima kasih,

Si Baju Abu - Abu.