Chapter Ten.
Page 289 of 365.
On Surviving Your 20s.
When you are a kid, life is about fun, laugh, cookie, and more fun.
When you are in junior high, life is about experimenting and experiencing new things.
When you are in your teenage years, life is about love, heartbreak, friendship, parent issues, and more heartbreaks.
But as soon as you realize you're not a teen-ager anymore (and yes, 20 is not a teenager, d'oh), you are stumbling your way on finding out about life itself.
When you are in 20-something, life is about finding the reason why you exist.
I'm not an expert yet, but i think i can share some tips on surviving your 20s. (I'm 21, duh, it's like i'm experiencing 2 years of my 20s. I'm a soon-to-be expert, at least.)
1. Realize that time is ticking faster than you think
When you're in your 20, whether you're in college or in marketplace, life doesn't count as days, but as moments. Use your ultimate resources wisely. No, your ultimate resources is not money, it's time. You can lost your money and you can get it back. It doesn't apply for your time.
Stop procrastinating. Stop thinking you have unlimited resources of time. Truth: you might be young, but never be too young to die.
And stop lying that you do any good for yourself by taking a rest. Well, taking a rest is good for your body but watching 8 hours straight Korean variety show is not. Go and make your momma proud.
2. It's time to answer the questions about life
As i mentioned earlier, 20-something is about answering the ultimate question: what are you going to do with your life?
Many people are having hard times answering it. They think that finding out your purpose means there is a sound from heaven telling you to do a great thing to change the world. While i believe there is some people who heard that sound from above, most of us can't wait for the God's whisper.
Deep down inside, you know what you have to do with your life. You're just scared to state it out loud. You're scared that you might not enjoy it. Well, guess what? You can always change your life's direction.
Find out what you love to do and start from there. And please, use your brain. No matter how happy you are when you are shopping around the malls, you can not have swiping the visa card as your calling.
3. Eliminate
Now you know that time is ticking away and you have a calling for your life but now you wonder: how on earth i could possibly do all this stuff and maintaining my relationship with friends, family, and myself?
Simple: eliminate.
Just because you are doing it for years, doesn't mean you have to continually do it. If it doesn't make you happy, why bother? Your family dinner every Friday and meeting some relatives that just talking sh- about your life? Skip it. A bunch of friends who talk about others behind their back? Dump them. Your so-called me time that includes surfing on the internet all day long? Cancel it and go to bookstore instead.
You are responsible for your mental health. When you have a solid reason of not doing something, then don't do it. The only person you have to make him happy is yourself.
4. Be grateful
You live in the most-sophisticated era of human history. We have 4G internet, laptop, smartphone, airplane, and Girls' Generation. That should be enough.
Even so, you are doing better than half of the world population now. You are not in a war, you're alive, you can read, you have internet access to this awesome blog, you have friends and family eventhough some of them are annoying, and you have a shelter and food to eat. Now tell me how a heartbreak could ruin your life...
5. Enjoy life
Being in you 20s is being in your best years. I always thought that teenage year is your best time but it's not. You made stupid decisions on your teenage years. 20s are your second season of the teenage years and just like all the TV shows, second season is always the best.
Now, hit the life.
Showing posts with label surat. Show all posts
Showing posts with label surat. Show all posts
Wednesday, October 16, 2013
Wednesday, September 11, 2013
Untuk Si Baju Biru
Chapter Nine.
Page 254 of 365.
Untuk Si Baju Biru.
Kepada Si Baju Biru,
di kelas baru.
Lampiran: kepingan hati, separuh napas, dan segenggam ketulusan.
Kepada Si Baju Biru,
Bersamaan dengan surat ini, saya selaku penghuni kelas baru di kelasmu, menyatakan ketertarikan yang aneh kepada dirimu.
Bukan, bukan perasaan yang diawali dengan huruf C itu. Terlalu dini bagi kita untuk mengucapkan itu. Namun, yang pasti, kamu telah sukses membuat labil hati saya.
Setiap saya masuk ke kelas, mata saya selalu terpaku kepada kamu dan saya akan memilih untuk duduk di tempat yang memungkinkan saya untuk terus memandangimu tanpa takut ketahuan.
Setiap ada tugas berkelompok di kelas, saya selalu mengucap doa dalam hati agar sang takdir mempertemukan kita bersama.
Setiap ada lelucon terucap dalam kelas, saya selalu melirik ke arahmu karena melihatmu tertawa adalah kebahagiaan terbesar saya hari itu.
Setiap kamu datang ke kelas dengan baju berwarna biru, saya selalu khawatir. Khawatir melihatmu begitu mempesona dan membuat penghuni kelas lainnya memperhatikanmu.
Setiap kelas berakhir, saya selalu melihatmu pergi dengan terburu - buru. Sedikit takut bahwa kamu pulang bersama orang yang kau selalu telepon tiap istirahat itu.
Nah, maksud saya menulis surat ini hanyalah mengungkapkan apa yang saya rasakan.
Bukan surat permintaan yang memaksa anda untuk menyukai saya kembali.
Saya hanya ingin anda tahu bahwa anda selalu membuat malam - malam saya lebih berwarna.
Terima kasih,
Si Baju Abu - Abu.
Page 254 of 365.
Untuk Si Baju Biru.
Kepada Si Baju Biru,
di kelas baru.
Lampiran: kepingan hati, separuh napas, dan segenggam ketulusan.
Kepada Si Baju Biru,
Bersamaan dengan surat ini, saya selaku penghuni kelas baru di kelasmu, menyatakan ketertarikan yang aneh kepada dirimu.
Bukan, bukan perasaan yang diawali dengan huruf C itu. Terlalu dini bagi kita untuk mengucapkan itu. Namun, yang pasti, kamu telah sukses membuat labil hati saya.
Setiap saya masuk ke kelas, mata saya selalu terpaku kepada kamu dan saya akan memilih untuk duduk di tempat yang memungkinkan saya untuk terus memandangimu tanpa takut ketahuan.
Setiap ada tugas berkelompok di kelas, saya selalu mengucap doa dalam hati agar sang takdir mempertemukan kita bersama.
Setiap ada lelucon terucap dalam kelas, saya selalu melirik ke arahmu karena melihatmu tertawa adalah kebahagiaan terbesar saya hari itu.
Setiap kamu datang ke kelas dengan baju berwarna biru, saya selalu khawatir. Khawatir melihatmu begitu mempesona dan membuat penghuni kelas lainnya memperhatikanmu.
Setiap kelas berakhir, saya selalu melihatmu pergi dengan terburu - buru. Sedikit takut bahwa kamu pulang bersama orang yang kau selalu telepon tiap istirahat itu.
Nah, maksud saya menulis surat ini hanyalah mengungkapkan apa yang saya rasakan.
Bukan surat permintaan yang memaksa anda untuk menyukai saya kembali.
Saya hanya ingin anda tahu bahwa anda selalu membuat malam - malam saya lebih berwarna.
Terima kasih,
Si Baju Abu - Abu.
Friday, August 9, 2013
Untukmu, J
Chapter Eight.
Page 221 of 365.
Untukmu, J.
Untukmu, J.
Page 221 of 365.
Untukmu, J.
Untukmu, J.
Halo, J..
Apa kabar?
Pasti baik, kan? Tadi aku lihat kamu bersama seorang teman
pergi berdua.
Ya, aku harap dia hanya seorang teman.
Memikirkan bahwa
sudah ada orang lain yang memilikimu tidak bisa diterima pikiranku.
Jika ada formula
‘yang harusnya memilikimu’ pastilah jawabannya adalah ‘aku’.
Sudah lama kita tidak mengobrol..
Bahkan, aku ragu kita pernah mengobrol sebelumnya.
Maksudku, mengobrol tentang kita.
Bukan tentang temanmu.
Bukan tentang temanku.
Bukan tentang
pekerjaanmu.
Bukan tentang studiku.
Tapi tentang kita.
Tentang harapan.
Tentang
cinta.
Aku tahu.
Mungkin ini salah.
Mungkin memang benar jika kita berdua
bukanlah pasangan yang sepadan.
Tapi kadang aku bertanya, siapakah yang
menentukan batas baik dan benar?
Bukankah jika kita berdua merasa bahwa ini
adalah hal yang baik, itu adalah hal yang baik?
Kenapa harus dengar apa kata orang?
Kenapa harus dengar apa
kata dunia?
Aku menulis surat ini bukan sebagai surat cinta yang merayu
– rayu agar aku bisa kembali mendekatimu.
Aku menulis surat ini karena aku
merasa kehilangan.
Aku merasa kehilangan seorang teman baik.
Bukannya berlagak munafik.
Ya, mungkin rasa itu masih ada
sampai saat ini.
Tapi yang lebih aku butuhkan saat ini adalah teman.
Seorang teman yang mengerti aku, yang mengerti apa yang aku
hadapi, dan yang tidak menghakimi.
Seorang teman seperti kamu yang dahulu.
Aku sudah hampir bisa mendengar suaramu yang menyerukan nada
– nada sinis agar aku berhenti menjadi seorang bayi dan mulai menghadapi hidup.
“Kamu bisa bertahan hidup sebelum bertemu aku. Kenapa harus
tidak bisa melanjutkan hidup lagi tanpaku?”
Kenapa?
Aku juga belum menemukan jawabnya sampai saat ini.
Mungkin aku harus lebih giat lagi mencari jawabannya.
Baiklah,
aku harap kamu sehat selalu dan bahagia.
Dengannya, tanpaku
Dari, I.
PS: Maaf jika kertasnya basah, aku bersumpah ini bukan tetes air mata.
Subscribe to:
Posts (Atom)